Home

“BROKEN HOME”

article-new-ehow-images-a08-2f-ur-communicate-regret-broken-family-relationship-800x800

Stigma keluarga pecah

Dalam era modern di mana kita dituntut bahu membahu untuk membawa bangsa dapat bersaing dalam prestasi ditingkat global, masyarakat masih berkutik dengan isu yang sangat menyulitkan kita untuk bergerak maju. Kita mudah memberi stigma negatif kepada pihak lain dianggap berbeda, membedakan “kita” (=yang lebih baik) dan “mereka” (=yang tidak baik, berbeda, harus dijauhi). Katakanlah dia si A, Si A memperoleh stigma sebagai murid tak bisa diatur, sering bolos,  berasal dari keluarga broken home yang sudah dibina tetapi gagal.  “Kasus merusak citra sekolah, anak yang kurang bagus tak bisa dibina.

Rupanya keluarga pecah memang dilihat buruk. Saya ingat seorang gadis korban kekerasan seksual yang bapak ibunya sudah bercerai. Ia akhirnya dibantu untuk melaporkan kasusnya  dan menghadapi banyak sekali kendala dalm proses hukum. Pelaku mengatakan dia “bukan perempuan baik-baik, orang tuanya bercerai”, jadi ceritanya tidak perlu dipercaya. Cukup banyak kalangan terdidik yang mendengar kasus itu juga berkomentar sama, apalagi pelaku memiliki kedudukan tinggi. Saya menjadi makin mengerti mengapa cukup banyak orang, meski terlanjur hidup dalam perkawinan yang sangat buruk dan tidak dapat lagi diperbaiki, memilih untukl mempertahankan perkawinannya. Mereka khawatir dikenal citra negatif janda dan didera perasaan bersalah anak-anaknya harus menyandang labekl anak broken home.

Banyak dari kita sibuk mengotak-ngotakan diri, bukanya membuang, melainkan malah menguatkan stigma sosial. “Kita” adalah satu agama, satu aliran, satu gaya hidup, yang mengikuti norma ideal dalam masyarakat. “Kita” adalah yang dapat mempertahankan keutuhan keluarga, berasal dari kelas yang sama, level hidup yang sama, suku yang sama, dan seterusnya. “Mereka” adalah yang miskin, dari keyakinan berbeda, bukan perempuan baik-baik, bukan dari keluarga baik-baik, dari suku X( dengan berbagai stereotipnya), anak keluarga pecah, berorientasi seksual berbeda, dan lain-lain.

Utuh tetapi pecah

Keluarga bercerai umumnya memang menghadapi persoalan jauh lebih banyak daripada yang utuh. Anak bingung melihat perpecahan orangtuanya, menghayati berbagai emosi negatif karena keluarga tidak dapat memberikan rasa nyaman dan memenuhi kebutuhan anak. Apalagi ada pandangan negatif dan sikap merendahkan dari masyarakat, yang makin mengacaukan batin orang tua tunggal dan anak. Anak cukup sering menghayati perasaan rendah diri dan merasa tidak aman dalan hubungan sosialnya.

Bagaimanapun, keluarga bercerai belum tentu lebih buruk daripada keluarga utuh. Ada keluarga utuh yang setiap anggotanya sebenarnya sudah saling tidak peduli atau sibuk bertengkar, tetapi bertahan tetap satu keluarga demi menjaga nama baik keluarga dimata orang luar. Dalam keluarga seperti ini, batin anak juga sangat tertekan, keluarga tidak mampu menjalankan perannya sebagai wadah yang memenuhi kebituhan rasa aman dan nyaman. Kasus-kasus yang ditemui dari konseling psikologi memperlihatkan cukup banyak keluarga yang “utuh tetapi kosong”,”utuh  tetapi tidak ada” atau “utuh tetapi pecah”.

Dalam keluarga-keluarga demikian, anak kadang lebih sulit belajar nilai-nilia kebaikan karena hal-hal buruk ditutupi demi menjaga citra ”keluarga baik-baik”.

Mengatasi masalah

Bila mungkin, memang jauh lebih ideal mempertahankan keluarga tetap utuh, tetapi bukan sekadar berpura-pura, tidak pula diisi dengan bentuk-bentuk perendahan dan kekerasan pada anggotanya.

Untuk yang terlanjur tidak mampu mempertahankan keluarga, atau harus tumbuh sebagai anak dalam keluarga yang pecah, memang banyak tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari situasi internal hubungan (mantan) suami-istri, kelancaran penafkahan, ketegangan mencari nafkah sambil merawat anak, hingga luka-luka batin yang masih harus terus diobati. Kadang menghadapi stigma dari masyarakat lebih sulit dan menyakitkan, anak dan orang tua tunggal sama-sama merasa kecil hati, menarik diri dari pergaulan, sehingga tidak optimal perfoma kerja dan sekolahnya.

Kita perlu mencari contoh figur-figur yang dibesarkan dalam keluarga pecah tetapi dapat mengatasi masalahnya, bahkan dapat menjadi tokoh terkemuka dan berpengaruh posotif dalam masyarakatnya, Obama salah satunya.

Jauh lebih manusiawi untuk memberikan dukungan bagi sesama, apalagi yang tidak seberuntung kita, daripada meminggirkan yang berbeda, yang hidup dalam kondisi tidak ideal. Apalagi yang tanpa memperoleh perendahan dari masyarakat pun sudah menjalani hidup yang lebih sulit daripada orang-orang lain.

Tampaknya perlu diadvokasikan ukuran baru bahwa guru dan sekolah yang “top” dan “hebat” itu bukanlah yang menguatkan pengotak-ngotakan dan penghukuman dalam masyarakat. Melainkan mampu merangkul anak-anak bermasalah dan mendidiknya menjadi sosok berprestasi, bertanggung jawab, dan menemukan jati dirinya sebagai manusia berharga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s